Pembiayaan hingga Fintech Bakal Jadi Tema Unggulan di Pertemuan IMF-World Bank 2018
Menkeu: Perubahan paradigma pembiayaan infrastruktur butuh stabilitas makro 
            
PEMBAHASAN
     
      Sidang Tahunan IMF-WBG (AM 2018) merupakan forum pertemuan terbesar bidang ekonomi, keuangan, dan pembangunan di tingkat global, yang mempertemukan pihak pemerintah (Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral) dari 189 negara, dan pihak non pemerintah yang menguasai sektor keuangan dan ekonomi dunia.
            Setiap tiga tahun sekali, negara-negara di dunia bersaing untuk menjadi tuan rumah pertemuan ini, karena potensi manfaat yang sangat besar bagi perekonomian negara tuan rumah, baik untuk mempromosikan destinasi investasi, wisata, pusat penyelenggaraan event internasional, maupun untuk menunjukkan kemajuan dan stabilitas ekonomi negara tuan rumah.

            Sebagai tuan rumah, Indonesia bertanggung jawab terhadap penyediaan berbagai fasilitas untuk penyelenggaraan pertemuan dan kelancaran delegasi, yang meliputi penyediaan hotel/ venue/ offices, handling delegasi, transportasi, fasilitas pertemuan, fasilitas kantor, fasilitas IT/ Audio Visual dan jaringan telekomunikasi, medis dan keamanan.
            Sementara biaya akomodasi dan makan para delegasi/ peserta selama di Bali akan ditanggung sendiri. Dapat dibayangkan, dengan jumlah pertemuan dan delegasi yang begitu besar, maka pemenuhan kebutuhan logistik dan kompleksitas pelayanan pertemuan yang disediakan menjadi sangat besar, misalnya:
            Para delegasi akan menyewa kantor dan ruangan dari Pemerintah Indonesia dengan tarif yang disepakati dengan Meeting Team Secretariat IMF - WBG, dan biaya sewa itu akan menjadi penerimaan pemerintah Indonesia. Selain itu pemerintah juga mengalokasikan 21 official hotels yang dapat disewa delegasi asing sebagai lokasi akomodasi mereka.
            Jumlah pekerja lokal yang terlibat mencapai lebih dari 20.000 orang, dimana lebih dari 3.000 pekerja terlibat dalam industri layanan terkait yang bertindak sebagai supplier dan vendor bagi seluruh kegiatan AM 2018. Di kawasan Nusa Dua sendiri terdapat sekitar 12.000 pekerja yang terlibat di main venues, offices, dan official hotel, sekitar 1.000 orang yang terlibat di bidang transportasi, dan lebih 5.000 orang yang bekerja di sektor terkait seperti restauran, cindera mata, airport handling, dan sebagainya.
            Panitia Nasional juga merekrut sebanyak lebih dari 400 orang Liaison Officer (LO) untuk para delegasi, serta hampir 1.000 relawan untuk membantu kelancaran pertemuan dan titik-titik strategis di Bali. IMF dan WBG sendiri juga akan merekrut dan mempekerjakan staf lokal sebanyak lebih dari 130 orang untuk membantu tugas-tugas administrasi dan manajemen mereka di Indonesia selama kegiatan berlangsung.
            Sejumlah tenaga medis disiapkan oleh pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi permasalahan kesehatan, dan pemerintah juga telah menunjuk 4 rumah sakit sebagai rujukan bagi para peserta Sidang Tahunan, serta menyiapkan KRI Soeharso sebagai fasilitas floating-hospital untuk kebutuhan evakuasi.
            Lebih dari 2.000 pekerja seni nasional, industri kuliner, dan industri kerajinan juga akan turut memeriahkan AM 2018 melalui pertunjukan seni budaya, festival kuliner, dan kerajinan Indonesia di lokasi penyelenggaraan. Hal ini untuk memberikan kesan yang mendalam bagi para delegasi asing dan memperkenalkan kekayaan budaya dan kekhasan Indonesia ke dunia internasional.
            Pemerintah juga telah menyiapkan 7 destinasi wisata utama di seluruh Indonesia untuk diperkenalkan kepada para delegasi/ peserta yang diperkirakan akan memperpanjang durasi tinggal di Indonesia dan menggunakan waktunya untuk sekaligus berwisata dan mengenal keindahan alam Indonesia.

 Analisis dan Data

            Salah satu tema yang akan diangkat adalah pembiayaan infrastruktur. Pada tema ini tentunya Indonesia akan memamerkan percepatan pembangun infrastruktur selama lima tahun terakhir sehingga diharapkan dapat menciptakan peluang pembiayaan tanpa menggunakan APBN.
            Selama hampir 5 tahun progres infrastruktur Indonesia sangat besar dan cepat termasuk yang dipuji banyak negara. Ini isu yg5 akan diangkat agar pembiyaan infrastruktur tidak hanya dibiayai APBN BUMN tapj juga dibiyai swasta.
            Pembahasan isu ini dalam Pertemuan Tahunan 2018 diharapkan dapat menghasilkan kerangka kebijakan yang jelas dan konsisten, tata kelola yang baik, iklim usaha yang mendukung, serta inovasi model pembiayaan infrastruktur, sehingga dapat meningkatkan peran swasta dalam pembiayaan infrastruktur.
     Ratusan investor menghadiri Indonesia Investment Forum 2018, yang merupakan rangkaian acara dari pertemuan tahunan IMF-World Bank. Dalam acara tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menawarkan berbagai macam skema pembiayaan baru dalam berinvestasi di sektor infrastruktur.

     Sri Mulyani hingga Rini Bahas Pembiayaan Infrastruktur di IMF-WB

Beberapa menteri kabinet kerja berkumpul membahas strategi pembiayaan infrastruktur guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Pejabat yang ada adalah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso. Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan butuh strategi pembiayaan baru untuk mendorong pembangunan infrastruktur di Indonesia. Karena untuk mewujudkan target pembangunan, penting adanya kita mendapatkan pendanaan yang tepat, sumber pendanaan konvensional dari perbankan, obligasi, akan menjadi sumber pembiayaan yang diandalkan,
Rini menyebut, peran BUMN dalam mendorong pertumbuhan ekonomi juga cukup tinggi. Salah satunya adalah melalui 30 sektor yang dikuasai oleh BUMN, seperti BUMN karya, BUMN perbankan, dan banyak lainnya. Rini mengungkapkan, ekonomi Indonesia saat ini masih konsisten tumbuh di level 5% dengan inflasi berhasil dijaga pada level rendah sekitar 3%. Dengan paradigma baru pembiayaan infrastruktur diharapkan bisa mencapai target pembangunan ekonomi seperti menurunkan angka kemiskinan dan menekan angka pengangguran. Sri Mulyani hingga Rini Bahas Pembiayaan Infrastruktur di IMF-WBFoto: Hendra Kusuma Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati kolaborasi pemerintah dengan lembaga negara dalam menyediakan aturan baru pembiayaan infrastruktur harus terus dilakukan, "Acara ini hasil kolaborasi yang kuat memberikan gagasan, khususnya dari pemaparan, Bu Rini, dan OJK, dan BI" ungkap Sri Mulynai. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh BUMN maupun yang melibatkan pihak swasta memiliki dampak yang baik terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. 
"Kita hadir karena ingin bahas paradigma baru dalam pembiayaan, dan untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi, inflasi juga rendah," jelas dia.
Strategi pembiayaan pembangunan infrastruktur pun harus dilakukan agar tekanan terhadap fiskal semakin berkurang, artinya alokasi anggaran dari APBN untuk pembangunan infrastruktur bisa dikurangi melalui pembiayaan. "Kenapa butuh infrastruktur, karena adanya paradigma baru pembiayaan proyek, " tutup dia.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan Pemerintah serius memperbaiki kondisi ekonomi domestik. Hal ini dilakukan untuk membuat iklim pembiayaan infrastruktur, terutama oleh swasta yang makin baik. Dia menjelaskan, paradigma baru pembiayaan infrastruktur dengan melibatkan swasta amat berkaitan dengan peran pemerintah dalam melindungi para investor dari berbagai ancaman tradisional, salah satunya fluktuasi nilai tukar.

"Kita tahu bahwa infrastruktur rentan terhadap risiko maturity, komitmen panjang, serta risiko dari sisi mata uang. Kita mengundang pembiayaan dari luar yang revenue dalam mata uang lokal. Jadi risiko tradisional harus ditangani," kata dia, dalam 'Indonesia Investment Forum', Conrad Hotel, Bali, Selasa (9/10/2018).
Selain itu, upaya lain yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menjadikan pembiayaan infrastruktur makin menarik adalah terus berusaha memperbanyak instrumen pembiayaan proyek infrastruktur oleh swasta.
"Kita berupaya sangat keras untuk memperkenalkan lebih banyak instrumen dan lebih banyak lembaga pembiayaan (di bawah pemerintahan)," ujar dia.
Dengan demikian, diharapkan pihak investor memiliki lebih banyak pilihan ketika hendak masuk dalam pembiayaan infrastruktur.
"Setiap negara tidak bisa menarik swasta untuk terlibat tanpa menciptakan keadaan makroekonomi yang stabil. Itu adalah pekerjaan Pak Perry (Gubernur BI), saya, dan Pak Wimboh (Ketua Dewan Komisioner OJK)," tegas dia.

Upaya Pemerintah Tawarkan Pembiayaan Infrastruktur Lebih Menarik
Perhelatan IMF-World Bank Annual Meeting 2018 makin dekat.  Berbagai persiapan terus dilakukan Indonesia sebagai tuan rumah. Tak hanya mempersiapkan sarana serta infrastruktur pendukung, Indonesia juga telah menyiapkan beberapa tema besar yang bakal dibawa ke pertemuan yang akan diselenggarakan 8-14 Oktober di Denpasar, Bali.
Kepala Departemen Internasional Bank Indonesia (BI), Dodi Zulverdi, mengatakan salah satu tema yang bakal disodorkan Indonesia adalah terkait mekanisme pembiayaan proyek infrastruktur oleh swasta terutama dengan instrumen pasar keuangan.
"Kita akan coba pastikan bisa dibahas dengan baik. Kita mau dapat pelajaran seperti apa framework yang baik, regulasinya bagaimana, legal basic bagaimana koordinasi antarlembaga bagaimana," kata dia 
"Indonesia saat ini sedang gencar membangun infrastruktur. Pembiayaan terbatas dari pemerintah kita perlu dapat masukan soal-soal sumber-sumber pembiayaan dari swasta," lanjut dia.
Tak hanya bicara, Indonesia juga akan 'memamerkan' beberapa proyek infrastruktur yang selama ini sudah dibangun dengan mekanisme pembiayaan oleh swasta.
"Pemerintah sudah punya program. Kita kerja sama dengan Kementerian BUMN untuk tampilkan beberapa proyek infrastruktur yang dibiayai swasta. Kita tujunjukkan kita tidak hanya bicara tapi kita sudah lakukan," ujar dia.
Selain itu, Indonesia juga akan menjadi inisiator diskusi terkait pengembangan ekonomi berbasis syariah. Dodi menyampaikan sub tema ekonomi syariah yang diangkat seperti, pembiayaan berbasis syariah dan efektivitas ekonomi syariah dalam mencapai target-target sustainable development goals (SDGs).
"Peran pembiayaan berbasis syariah dan kita ingin tunjukan bahwa ekonomi syariah punya peran dalam pencapaian SDGs. Itu (ekonomi syariah) bisa sangat efektif mencapai target SDGs. Kita ingin bahas manajemen keuangan syariah, seperti sukuk juga keuangan syariah berbasis sosial financing, seperti wakaf dan zakat," imbuh dia.
"Selain itu kita bersama negara Asia dan Timur Tengah diharapkan bisa menyepakati standard-standard sebagai kesepakatan bersama dalam pengembangan ekonomi syariah. BI sedang susun beberapa standard," ujar Dodi Indonesia juga akan mendorong agar pembahasan terkait financial technology (fintech) mendapatkan perhatian khusus dalam IMF-World Bank Annual Meeting kali ini.
"Kita akan lead terkait prinsip fintech yang menguntungkan. Artinya kita akan bahas bagaima mengoptimalkan manfaat positif dari fintech, sambil juga membahas upaya untuk memitigasi risiko," kata dia.

Pertemuan IMF-WB, Menkeu: Perubahan paradigma pembiayaan infrastruktur butuh stabilitas makro

            Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan perubahan paradigma dalam pembiayaan infrastruktur membutuhkan stabilitas ekonomi makro untuk memberikan kepastian terhadap investor swasta. "Kita tidak bisa membuat paradigma baru tanpa stabilitas ekonomi makro. Untuk itu, pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia maupun Otoritas Jasa Keuangan," kata Sri Mulyani saat memberikan pidato kunci dalam acara "Indonesia Investment Forum" di Nusa Dua, Bali, Selasa. Sri Mulyani mengatakan perubahan paradigma dalam pembiayaan infrastruktur sangat penting karena dalam kondisi saat ini tidak mungkin mengandalkan cara-cara tradisional melalui pendanaan dari sisi fiskal, karena APBN yang terbatas.

Perubahan paradigma ini mencakup skema pembiayaan melalui Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), mendorong keterlibatan BUMN atau menggunakan blended finance untuk mendorong kebutuhan infrastruktur.

Melalui skema KPBU, pemerintah berupaya memberikan jaminan dan kesiapan proyek kepada investor swasta yang diantaranya mencakup kebutuhan dana maupun pengadaan lahan agar tidak ada hambatan dari segi non teknis.

"Mengundang swasta berarti ada proses pengadaan barang dan jasa serta persiapan proyek yang baik, karena mustahil swasta masuk kalau tidak ada perbaikan kualitas. Menciptakan transparansi ini yang biasanya sulit dilakukan karena selalu menjadi bottleneck," kata Sri Mulyani.

Selain itu, upaya mengurangi risiko bagi investor juga dilakukan karena proyek jangka panjang biasanya terkendala persoalan jatuh tempo pinjaman atau risiko mata uang sehingga ikut menjadi penghambat pengadaan infrastruktur dari swasta.

Sri Mulyani menyakini skema pembiayaan alternatif dapat berhasil karena telah didukung oleh penciptaan instrumen investasi, jaminan dari pemerintah melalui BUMN dibawah Kementerian Keuangan dan struktur maupun desain yang diinginkan swasta.

Hal ini juga didukung oleh stabilitas ekonomi makro yang telah terjalin dalam beberapa tahun terakhir, melalui pertumbuhan ekonomi yang terjaga rata-rata sebesar lima persen, inflasi yang rendah dan upaya-upaya lainnya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan maupun defisit fiskal. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan paradigma baru dalam pengadaan infrastruktur sangat penting karena Indonesia sebagai negara berkembang merupakan daerah tujuan investasi yang menarik. Ia menambahkan OJK telah berupaya untuk mempromosikan pembiayaan infrastruktur dengan berbagai instrumen keuangan maupun pengembangan pasar yang lebih canggih agar pembangunan proyek berbasis lingkungan dapat terwujud."Penciptaan lapangan kerja maupun pembangunan proyek yang bermanfaat bagi masa depan dan lingkungan sangat dibutuhkan. Kombinasi itu penting untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan," kata Wimboh. Sementara itu, Menteri BUMN Rini Soemarno menawarkan kesempatan investasi sebesar 42,1 miliar dolar AS kepada pihak swasta untuk 78 proyek yang mencakup infrastruktur di berbagai sektor dalam pertemuan tahunan ini. Rini mengharapkan pemilik modal swasta berminat untuk masuk dan terlibat dalam pengadaan infrastruktur di Indonesia melalui berbagai skema pembiayaan alternatif yang sudah ditawarkan dan disiapkan oleh pemerintah. Ikut hadir dalam Indonesia Investment Forum ini Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

sumber : 





           
           



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Bahasa Inggris